TERJEBAK MLM

TERJEBAK MLM

TERJEBAK MLM

Pagi kemarin, aku di telfon kawanku untuk jumpa sehabis uas. Katanya sih ada kerjaan, otomatis aku langsung semangat mengingat keadaan dompet yang sedang kosong melompong. Eh, tapi pas ditanya kerjaan apa dia malah bilang “Udah, datang aja besok ya zik!”. Nah, disini curiga aku muncul, kerjaan apa yang bakal ditawarkan sama kawanku ini? Tapi ya berhubung kawanku ini sudah banyak menolong mulai dari awal masuk kampus, yaudah deh, apa salahnya lihat dulu apa yang di tawarin, karena memang gak semua hal bisa aku kerjakan. Nah, besoknya, ternyata sudah ada beberapa orang yang ngumpul dan satu orang yang menjelaskan sesuatu. Ternyata benar dugaanku, multi level marketing atau biasa dikenal dengan MLM dan sekarang merubah nama menjadi self francise. Duh! Kena lagi!!!

Beberapa bulan yang lalu….

Seorang kenalan baru (bukan yang di awal tulisan tadi), ngajak untuk datang ke seminar bisnis sambil merencanakan sebuah acara yang bakal diadakan beberapa bulan lagi. Nah, awalnya aku ga curiga kareana memang ngajak ketemuan di tempat makan. Aku nunggu dan ternyata loh, tumben nih tempat lumayan rame dan pakaiannya rapi-rapi. Biasanya aku lewat situ sih seperti tidak ada penghuni. Dan aku coba tanya sama orang-orang disitu.
“Mas, ini ada apa ya kok rame banget?”

“Ini ada seminar bisnis mas.”

“Ha? Serius?”

Heran, ternyata disitu ada acara. Niat langsung tergerak buat pindah tempat. Ternyata eh teryata, tetiba masuklah sms ke hp aku.

“Zikri, nanti ikut acara saya dulu ya. Disitu sambil kita bahas acara yang mau kita buat. Pokoknya tiketnya saya yang bayarin deh!”

Nah, disini ke-heran-anku bertambah. Apa iya bisa membicarakan suatu hal sambil seminar? Pikiranku tentang seminar itu sudah pasti membosankan dan bikin ngantuk. Tapi daripada aku jauh-jauh Tanjung Morawa-Medan dan ternyata hasilnya begini, lebih bagus ikut saja deh. Iseng, lagian juga gratis kok!

Awal masuk, si kenalan ini langsung saja menyodorkan buku.

“Ini buku bagus loh zik, saya udah baca sih baru beberapa halaman. Jadi kita biasanya pekerja ada di bagian ini, lalu kita begini, begitu, bla, bla, bla, bla, nah, jadi kalau mau jadi kaya kita jadi golongan investor, kita gak bekerja untuk uang, uang yang bekerja untuk kita!”. Dengan muka semangatnya, seperti muka seorang anak yang berhasil mendapatkan juara kelas untuk pertama kalinya. Aku tidak tertarik dengan buku itu, sungguh! Karena memang awalnya aku tidak datang untuk itu. Dia memberikan sebuah tiket masuk, aku melihat jikalau ini seminar bisnis, pasti ada seorang pembicara yang tentunya disebutkan juga prestasinya. Tapi tak ada. Keisenganku berubah jadi penasaran.

Kemudian, si kenalan tadi tiba-tiba menutup pembicaraan ini dan mengajak aku ke lantai dua bersamaan dengan kira-kira 300 orang lain. Sesampainya diatas, disambutlah kupingku dengan musik energyzer dengan irama yang sangat keras sehingga tidak jauh beda dengan kuis “Who Wants To Be A Millionairre”. Nah, begitu acara dimulai, naiklah seorang MC yang sepertinya tidak terbiasa menjadi MC dan kurang menarik untuk menjadi MC ke atas panggung. Dia memaparkan tentang uang, uang, dan uang. Sampailah beberapa orang yang notabene adalah anggota mereka sendiri yang memaparkan bagaimana hebatnya produk tersebut dan omset mereka menjual barang tersebut. Beserta bonus-bonus lain jika mereka naik level (Kaya game online aja). Mulai dari sepeda motor, mobil mewah, kapal pesiar, pesawat pribadi, dan lain lain. Siapa yang tidak mau menjadi cepat kaya seperti itu? Nah, aku pikir-pikir bagaimana mungkin sang product owner punya uang yang begitu banyak untuk memberi bonus seperti itu? Seketika, aku beranggapan kalau ini tidak jauh dari reseller product. Yang dibawah membeli dan capek-capek menawarkan produk orang lain, yang di atas untung dan tinggal goyang kaki. Bisnis MLM ini juga mewajibkan anggotanya untuk mempunyai downline, semakin banyak downline, maka semakin tinggi level orang tersebut! Acara semakin mengerucut bukan pada seminar bisnis pada umumnya, tapi menjadi perekrutan dan brain wash masal. Kemudian acara ditutup dengan memamerkan para leader dan apa saja yang sudah mereka raih dari produk tersebut.

TERJEBAK MLM

TERJEBAK MLM

Sehabis acara, beberapa orang disuruh berkumpul untuk membuat beberapa lingkaran kecil. Nah, disinilah kejanggalan yang membuat aku makin merasa bisnis ini gak cocok samaku. Salah satu leader mendatangi kami dan menjelaskan beberapa poin yang ga jauh beda dengan presentasi tadi. Dan setelah itu, si leader ini memulai aksinya.

“Jadi, kalau mulai dari level 1, cukup murah, kita tinggal bayar Rp 200.000 kok! Tapi masalahnya lama naik level dan lama untungnya. Tapi kalau mau cepat modal balik, gampang saja, langsung aja ambil level 3! Level 4 sudah bisa untung RP 300.000 per bulan loh! Memang agak mahal sih, kita bayar Rp 3.500.000 tapi mau abang ajarin caranya biar cepat dapat? Ada 3 cara nih! Pertama, kita bilang aja apa adanya sama orang tua, bisnis modal awalnya R 3.500.000 tapi yang begini sih biasanya jarang dikasih. Kita pakai cara yang kedua, bilang aja ada sekolah bisnis atau kelas tambahan di kampus biayanya segitu. Nah, kalau gabisa juga cara yang ketiga, ada laptop kan? Gadaikan saja, toh nanti kalau untung kan bisa di tebus!”

Dari pembicaraan itulah aku sadar kalau bisnis ini adalah perbudakan yang menggunakan cara brain wash yang menghalalkan segala cara untuk mendapatkan downlinenya. Masa iya kita diajarin berbohong sama orang tua dan menggadaikan (bahasa halus yang ujungnya mencuri) barang hanya untuk modal yang belum tahu untung atau rugi? Kalau ada yang bilang pasti untung, saya sih langsung bilang “ANDA BUKAN TUHAN!”

Besoknya, si kenalan ini dengan gencarnya meng-sms dan menelfon aku yang notabene hp ini biasanya cuma di sms sama operator! Dengan berbagai alasan, aku mengelak dan sampai sekarang, Alhamdulillah sekarang sudah jarang ketemu dan komunikasi gak seperti dulu waktu mau presentasi.

TERJEBAK MLM

TERJEBAK MLM

Beberapa bulan kemudian (Lanjutan prolog di atas)

Sesampainya di luar perpustakaan (tempat janjian ketemu), aku langsung kecewa sama kawan baikku ini. Ku kira kerjaan beneran gak taunya bisnis MLM seperti ini. Aku langsung bisa menebak kalau itu ya seperti “presentasi mini” sebuah MLM. Sebenarnya, sejak kejadian pertama aku dijebak MLM (cerita pertama di atas), aku mulai rajin mencari beberapa sumber tentang MLM mulai dari kaskus dan sebagainya. Ternyata, lebih banyak hal yang negatif buatku daripada yang baik-baiknya. Seperti misalnya lebih banyak yang berubah dan hanya memikirkan uang, bangkrut, dan jebakan-jebakan lain yang tidak pernah aku kira sebelumnya. Balik lagi ke cerita, nah, kali ini kuputuskan untuk melawan dan menjelaskan apa saja yang ku ketahui kepada si pengajak ini karena aku sudah “palak” duluan jauh-jauh dari Tanjung Morawa ke Medan cuma untuk MLM ini.

Biasanya, pembicaraan dibuka sama si pengajak sih, tapi hari ini aku langsung nyeletuk dengan combo-combo argumen pedas yang bikin si pengajak ini diem. Eh, tapi dengan mental MLM nya, di malah mencoba melawan balik dengan argumennya yang lebih goblok! Ngejelasin pake buku Robert T Kiyosaki yang notabene di salah artikan oleh para leader-leader MLM ini. Bilang kalau pengen buka usaha dengan branding sendiri butuh modal, lah sementara si Robert T Kiyosaki dengan keuangan MINUS! Dikira dia aku ga pernah baca bukunya apa? Terus takut usaha dengan merk sendiri dengan alasan resiko sementara dia ngejelasin kalo kita di tolak produknya itu namanya usaha, PENOLAKAN SAMA RESIKO ITU SAMA GOBLOK!

Setelah itu, dia malah berdalih supaya aku menurunkan ego dan lebih baik mencoba dulu program MLM. Aku jelas gak mau dan menghindar terus. Akhirnya aku pulang dan cuma menghasilkan capek.

TERJEBAK MLM

TERJEBAK MLM

Memang, yang jadi target utama sih para mahasiswa baru terutama yang dari luar kota. Karena memang mahasiswa luar kota yang ngekost kondisi keuangannya pas-pasan dan pengen mencari uang yang lebih tentunya. Tapi ke-tidaktahu-an dan kepolosan mahasiswa luar kota inilah yang menjadi sasaran brain wash dari MLM tersebut. Ujungnya malah terjebak dalam lingkaran MLM itu sendiri dan kehidupannya menjadi berubah.

*) Musik energyzer: Musik yang berirama semangat dan dinamis. Biasanya musik yang dibuat untuk membangkitkan semangat dalam seminar ataupun pertemuan.

**) Palak (istilah Medan): Emosi, emosi yang di tahan.

About these ads

About gentongbiru

Mahasiswa Kota Medan, Teknik Elektro USU 2012, Blogger Sumur, Muka Heavy Metal Hati Heavy Rotation, Seorang penulis yang suka bersosialisasi dan galau
This entry was posted in SOSIAL & BUDAYA, TIPS DAN OPINI and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to TERJEBAK MLM

  1. pernah diajak ikut seminar begituan (dibayari) karena cuma pengen tau aja dan ternyata bener mereka mencuci otak calon anggota yang bakal mereka rekrut krn aku sebelumnya udah paham dengan beginian (krn punya sodara yg ngalami kejadian pahit dlm hidupnya) jd ga mempan deh. nah pada saat akhir acara sama tuh disuruh buat lingkaran gitu, and you know what aku langsung cabut dan sempat di halangi tp aku kabur gitu aja ga peduli hahaha

  2. Oke dek. Banyak juga yang bahas ginian.
    Intinya hati hati aja dah :p
    Kawan2 juga banyak yg udah terjebak ginian.

  3. ecymutias says:

    Gak asing ini kejadiannya, aku hampir merasakan hal yang seperti ini tapi gaperna berhasil diajak haha

  4. iniblogane says:

    dulu pernah ikut sekali karena masih polos-polosnya, tapi sekarang udah tau, benar2 udah tau

  5. buburasem says:

    Wah sama pengalaman kita zik haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s