Pada dasarnya, di tulisan ini aku gak cuma membahas anime saja. Tapi juga industri kartun yang ada di Indonesia. Kenapa? Selain karena request-an abang @awilftanjung, aku juga merasa kalau hiburan untuk anak-anak Indonesia juga kian hari kian menghilang. Coba saja perhatikan, biasanya, setiap minggu rata-rata channel televisi di Indonesia menanyangkan kartun dan anime mulai dari jam 6 pagi sampai jam 11 siang (bahkan ada yang sampai jam 2 siang). Tapi sekarang ini, entahlah karena memang sudah kurangnya perhatian untuk hiburan anak-anak, atau memang anak-anak yang tidak suka lagi dengan acara animasi dan sebagainya. Tapi saya sendiri yang sudah tua begini masih suka kok menonton anime seperti Full Metal Alchemist, Sword Art Online, Naruto, Bleach, One Piece, sampai yang paling jadul Dragon Ball
.
Tidak hanya anime atau kartun, kian hari acara anak-anak semakin hari semakin menghilang entah kemana. Sebagai contohnya saja acara musik anak-anak seperti ci-luk-ba, tralala-trilili, Enno ceria, dsb. Hal ini tentu saja berpengaruh ke psikomotorik anak yang berujung anak lebih tau lagu untuk remaja dan dewasa tentang cinta-cinta daripada lagu yang lebih layak untuk seumurannya, tidak seperti zaman aku kecil dulu ada Chikita Meidy, Cindy Senora, Maissy, Trio Kwek Kwek, Agnes Monica, Joshua, Tasya, dll
.
Balik lagi soal anime atau kartun tadi, mungkin saja akan terjadi “kepunahan” yang sama seperti acara musik untuk anak tadi. Karena beberapa minggu ini ku lihat acara anak-anak yang biasanya sampai jam 11 sudah “disunat” jadi sampai jam 9 dan itu hanya untuk acara-acara musik yang notabene adalah perusak acara dan mutu dari acara musik di Indonesia itu sendiri. Dan yang bikin aku lebih emosi lagi, bintang tamunya adalah kumpulan anak-anak yang menyanyikan lagu cinta. Entahlah itu anak-anak udah disunat apa belum, tapi yang jelas, lagu-lagu yang mereka bawakan adalah soal cinta yang belum pantas untuk mereka pahami
.
Bukan hanya sekedar jam tayang yang “disunat”, tapi juga lembaga sensor Indonesia yang semakin lebay menyensor acara-acara anime tersebut. Tapi sensor yang berlebihan menyebabkan ke-tidak nyambung-nya alur cerita anime tersebut. Kita ambil saja contoh anime Naruto, aksi ketika naruto berantem melawan musuh disensor alasan kekerasan. Yang mau di tonton dan bagian serunya itu justru adegan berantemnya woy!!! Kalau alasannya karena ada anak yang mati karena meniru adegan dalam anike, itu karena kurangnya perhatian dari guru dan orangtua, bukan salah animenya. Dan yang paling gak penting, guru Asuma yang merokok, rokoknya di sensor. Please, mikir dong, di lingkungan anak-anak tersebut masih banyak orang yang merokok, iklan rokok beredar bebas, pabrik rokok juga masih berdiri, masa rokok virtual dalam kartun juga di sensor
?
Hal inilah yang kadang membuat miris para pecinta anime dan kartun. Lebih baik baca komik online atau menonton animenya lewat youtube saja sekalian. Nah, herannya lagi, anime yang bagus dan cenderung mendidik seperti doraemon, disney channel, dora the explorer,dsb juga kurang mendapat perhatian hanya karena alasannya kurang penonton. Duit lagi duit lagi. Kasian anak-anak sekarang ya
.
Ya mungkin itu sajalah unek-unek saya sebagai penikmat anime dan kartun yang merasa kasihan akan hilangnya hiburan buat anak-anak di Indonesia ini. Padahal anime itu tidak hanya soal hiburan. Tapi banyak juga cerita tentang perjuangan, impian, persahabatan, cinta orangtua, dll. Semoga saja akan ada revolusi untuk anime supaya anak-anak lebih bisa menjadi anak-anak bukan menjadi anak-anak yang berkelakuan dan berpikiran seperti orang tua
.





doraemon pun skrg sudah punah, biasanya udah stand by jam 8 skrg ga tau mau nonton apa lagi…
tapi untungnya sponge bob masih ada hehehe
Ya, perbanyak aja anime yg lebih mendidik ya kan? Kan anak-anak jadinya ngeh. Masalah ngga ada penonton atau ngga, sebenernya yg bikin tren bukan penonton tapi televisi sendiri.
andaikan ada saluran khusus utk para pecinta anime di Indonesia